International Guest Lecture Series bersama pakar pendidikan Jerman di Pendidikan Geografi #2 – Tasks and Practice
24 Oktober 2025 – Program Studi Pendidikan Geografi kembali digelar bersama Dr. Johannes Tschapka dari Bielefeld University, Jerman. Pada pertemuan kedua mata kuliah Pengembangan Bahan Ajar ini, agenda bergeser ke ranah praktis dengan tema Tasks and Practice. Sesi yang dipandu bersama Dra. Ita Mardiani Zain, M.Kes. dan diterjemahkan oleh Dr. Lidya Lestari Sitohang, S.Si., M.Sc. ini menyoroti peran krusial desain tugas (tasks) dalam pembelajaran. Mahasiswa diajak memahami bahwa tugas bukan sekadar latihan soal hafalan, melainkan sebuah aransemen pembelajaran yang menuntut siswa menggunakan Seperangkat Praktik Majemuk untuk menghadapi situasi dunia nyata yang kompleks.
Sebelum membedah teori modern, Dr. Tschapka mengajak peserta menengok ke belakang dengan menganalisis sebuah karya seni klasik dari Jacques de Gheyn (1565-1629) yang berjudul Mother and Child with book. Ilustrasi yang dibuat sekitar tahun 1620 ini bukan sekadar gambar artistik, melainkan representasi visual yang kuat mengenai paradigma pengajaran di masa lalu.
Dalam karya tersebut, terlihat seorang ibu yang memegang buku sedang mengajarkan anaknya membaca. Adegan ini merepresentasikan konsep Transmisi Satu Arah (One-way Transmission). Sang ibu (guru) diposisikan sebagai pemegang otoritas pengetahuan dan buku, sementara sang anak (siswa) berperan sebagai penerima pasif yang harus menyerap apa yang diberikan. Tidak ada negosiasi materi, tidak ada konstruksi bersama; yang ada hanyalah aliran informasi linier dari yang Tahu kepada yang Belum Tahu.
Dr. Tschapka menggunakan gambar ini sebagai titik tolak untuk mengontraskan metode klasik tersebut dengan tuntutan pendidikan modern. Jika di tahun 1620 pengajaran adalah tentang Memberi Tahu, maka di abad ke-21, seperti yang dijelaskan melalui model Piramida Didaktik (di pertemuan 2 lalu), pengajaran adalah tentang partisipasi dan interaksi yang kompleks antara guru, siswa, dan lingkungan. Pembahasan menyoroti pergeseran signifikan dari pendekatan tradisional Satu Arah (One-way)—di mana guru bertindak sebagai pemegang otoritas tunggal yang mentransfer ilmu—menuju paradigma modern Participatory. Belajar sekarang bukan lagi soal guru memberi dan murid menerima, tapi soal bagaimana keduanya berkolaborasi menciptakan pengetahuan baru
Untuk membedah anatomi interaksi yang terjadi di dalam kelas, Dr. Tschapka memperkenalkan dua model teoretis utama sebagai landasan analisis. Pertama, mekanisme pengajaran digambarkan melalui Segitiga Didaktik (Didactical Triangle) merujuk pada Alan Schoenfeld (2012) . Model ini memvisualisasikan hubungan timbal balik antara tiga elemen kunci: Guru, Siswa, dan Materi, di mana keberhasilan pembelajaran bergantung pada kualitas relasi ketiganya. Namun, menyadari bahwa realitas kelas jauh lebih kompleks, konsep ini diperluas menjadi Piramida Didaktik (Didactical Pyramid) berdasarkan pemikiran Andreas Gruschka (2011) . Model piramida ini menambahkan dimensi keempat, yaitu konteks lingkungan—seperti budaya sekolah, kurikulum, dan masyarakat—yang menegaskan bahwa interaksi di kelas tidak terjadi di ruang hampa, melainkan selalu dipengaruhi oleh tekanan eksternal yang melingkupinya.
Diskusi semakin tajam ketika Dr. Tschapka mengajak peserta menelaah interaksi kelas melalui lensa Mediated Discourse Analysis dari Ron Scollon (2002) . Melalui diagram ilustratif mengenai Rantai Tindakan(Chain of Actions), terungkap sebuah fenomena menarik bertajuk Sama tapi Beda (Same but different). Meskipun guru dan siswa terlihat melakukan aktivitas fisik yang serupa di kelas—seperti mengambil informasi atau menggambar peta—tujuan kognitif dan pemaknaan di balik tindakan tersebut sering kali berseberangan.
Dalam perspektif guru, rantai tindakan tersebut umumnya difokuskan pada struktur kurikulum dan evaluasi hasil belajar yang objektif. Sebaliknya, siswa sering kali berpartisipasi dengan tujuan yang lebih personal dan spontan. Misalnya, tindakan mengambil foto mungkin dimaknai sebagai dokumentasi pengalaman pribadi (selfie) ketimbang bukti akademis. Temuan ini menyimpulkan implikasi penting bagi para pendidik: meskipun guru dan siswa berbagi ruang fisik yang sama, mereka sering beroperasi dalam dua "dunia makna" yang berbeda. Oleh karena itu, kepekaan guru untuk menjembatani celah persepsi ini menjadi kunci agar tujuan pembelajaran yang dirancang dapat selaras dengan pengalaman yang dirasakan oleh siswa.
- Schoenfeld, A. H. (2012). Problematizing the didactic triangle. ZDM, 44(5), 587-599.
- Gruschka, Andreas. (2011). Didaktik. Frankfurt a.M.: Büchse der Pandora. P. 121
- Scollon, Ron 2002, Mediated Discourse Analysis, Verso.