Menjadi Guru Geografi yang Ilmuwan
Pada 1 Oktober 2025, Program Studi Pendidikan
Geografi mengadakan dialog dengan Dr. Johannes Tschapka, ahli pendidikan dari
Bielefeld University, Jerman. Dialog ini diikuti oleh 35 mahasiswa angkatan
2024, dengan topik "Menjadi Guru yang Ilmuwan." Kegiatan terdiri dari
pemaparan materi, tugas partisipasi, dan diskusi. Hadir dalam acara ini Dra.
Ita Mardiani Zain, M.Kes., Kepala Laboratorium Pendidikan Ilmu Sosial FISIPOL
dan dosen pengampu mata kuliah Pengembangan Bahan Ajar, Zahidah Mahroini,
S.Pd., M.Sc., sebagai Unit Penjaminan Mutu Prodi Pendidikan Geografi, serta Dr.
Lidya Lestari Sitohang, S.Si., M.Sc., sebagai penterjemah.
Sesi pertama dimulai dengan pemikiran bahwa
seorang guru perlu mempertimbangkan makna menjadi guru yang baik. Dr. Tshcaphka
menjelaskan bahwa guru sering memiliki dua pandangan berbeda tergantung pada
tahap studi siswa. Pertama, di awal studi, guru menganggap siswa belum memiliki
pengetahuan, sehingga cenderung memberikan ceramah dengan banyak materi. Kedua,
di akhir studi, guru beranggapan siswa sudah memahami materi, sehingga lebih
banyak diberikan tugas. Kondisi ini sering kali memposisikan siswa sebagai
individu yang tidak tahu apa-apa. Alih-alih mengembangkan potensi siswa, guru
justru menciptakan situasi di mana nilai bahwa siswa memiliki pengetahuan yang
bisa dioptimalkan dalam proses pembelajaran menjadi minim. Padahal, setiap
pembelajar memiliki pengetahuan awal yang seharusnya bisa dimanfaatkan sebagai
bahan ajar. Dr. Tschapka kemudian menjelaskan penerapan konsep ini dalam dua
aktivitas berikutnya.
Dengan latar belakang Antropologi Kependidikan,
Dr. Tschapka menyusun aktivitas partisipatif yang relevan bagi mahasiswa
Pendidikan Geografi. Di sesi kedua, mahasiswa diminta untuk menggambarkan
objek-objek yang terkait dengan mitigasi bencana pada lukisan bentang alam yang
telah disediakan. Tugas ini mengharuskan mahasiswa untuk secara independen
menganalisis dan memutuskan bencana apa yang mungkin terjadi berdasarkan
landscape tersebut. Menurut Dr. Tschapka, aktivitas ini menggambarkan
pengembangan keterampilan HOTS (High Order Thinking Skills) bagi calon guru
geografi. Setiap kelompok mahasiswa menghasilkan beragam jenis bencana di
gambar bentang alam (landscape), serta representasi mitigasi bencana yang
berbeda-beda pula. Perbedaan tersebut berasal dari pengetahuan dan pengalaman
mereka masing-masing.
Di akhir sesi, Dr. Tschapka memberikan penekanan
pada pentingnya mengetahui batasan antara guru sebagai seorang ilmuwan dan guru
sebagai seorang aktivis. Ia lalu memperjelas penjelasannya dengan menunjukkan
kaos T-Shirt hitam bergambar kcon topi Jerami wajah tengkorak tersenyum dan
tulang bersilang, yang saat ini dikenal dengan ikon serial manga One Piece. Ia
kemudian menyampaikan pergerakan masa yang diasosiasikan pada gambar tersebut
bisa melibatkan peran guru, baik sebagai ilmuwan atau sebagai aktivis. Sebagai
ilmuwan, seorang guru dapat menggunakan gambar sebagai bahan ajar tanpa
mengenakannya. Sebagai seorang aktivis, seorang guru bisa mengenakan T-Shirt
tersebut dan terlibat aktif dalam pergerakan masa seperti yang terjadi
akhir-akhir ini.
Berdasarkan kegiatan ini dapat dimaknai bahwa seorang
guru geografi yang ilmuwan tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga
menciptakan ruang bagi siswa untuk mengembangkan pengetahuan awal mereka dan
menghubungkannya dengan konteks dunia nyata. Dengan pendekatan yang bersifat
partisipatif dan reflektif, guru dapat memotivasi siswa untuk berpikir lebih
dalam tentang isu-isu seperti mitigasi bencana dan kaitannya dengan kehidupan
mereka. Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan geografi, yaitu tidak hanya
untuk menguasai materi, tetapi juga untuk mempersiapkan siswa sebagai individu
yang mampu berpikir kritis, mengambil keputusan yang tepat, dan berdampak bagi
masyarakat.