Seminar Ekoteologi Perspektif Agama dan Geografi: Menyikapi Krisis Lingkungan
Surabaya, 23 Oktober 2025 – Dalam upaya memperdalam pemahaman serta meningkatkan kesadaran tentang krisis lingkungan yang kian akut, Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi (Himaprodi Pendidikan Geografi) Fakultas Ilmu Sosial Politik Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menggelar Seminar Ekoteologi: Perspektif Agama dan Geografi dalam Menyikapi Krisis Lingkungan.
Kegiatan yang berlangsung pada tanggal 23 Oktober 2025 ini menghadirkan dua narasumber kompeten di bidangnya, yaitu Dr. Sholehuuddin (ahli ekoteologi) dan Hj. Maftuhah Mustiqowati (praktisi lingkungan).
Seminar ini bertujuan menghubungkan studi agama, khususnya ekoteologi, dengan ilmu geografi dalam menjawab tantangan lingkungan yang semakin serius.
Selain itu, kegiatan ini juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim dan SDG 15 tentang Menjaga Ekosistem Daratan, melalui pendidikan dan aksi nyata dalam pelestarian lingkungan.
Narasumber Seminar Ekoteologi UNESA membahas kolaborasi agama dan geografi untuk lingkungan.
Dalam sesi pemaparan, Dr. Sholehuuddin menekankan bahwa agama berperan vital dalam membentuk kesadaran spiritual dan etika ekologis masyarakat.
Menurutnya, “Ekoteologi mengajarkan kita untuk melihat alam sebagai ciptaan Tuhan yang wajib dilestarikan. Setiap individu memikul tanggung jawab moral untuk menjaga bumi sebagai bentuk syukur atas karunia Tuhan” Kutipan-kutipan ayat Al-Quran yang dipaparkan memperkuat pentingnya pelestarian lingkungan sebagai bentuk ibadah.
Pandangan ini sejalan dengan semangat SDG 15 yang menekankan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem dan kelestarian daratan. Kerusakan alam, jelasnya, lebih banyak diakibatkan oleh keserakahan manusia yang tidak mengelola bumi dengan seimbang.
Moderasi Beragama: Keseimbangan Mengelola Alam
Menurut Dr. Sholehuuddin yang juga Instruktur Moderasi Beragama, “Bumi diciptakan untuk kemakmuran, bukan dieksploitasi tanpa batas. Karena itu, penting bagi manusia untuk mengelola alam secara berimbang dan bertanggung jawab.”
Beliau berharap melalui seminar ini muncul aksi nyata di masyarakat, tidak berhenti pada diskusi saja.
Pesan ini memperkuat urgensi tindakan nyata dalam mitigasi perubahan iklim sebagaimana ditekankan dalam SDG 13 (Climate Action).
Perspektif Geografi dan Praktik Lingkungan: Hj. Maftuhah Mustiqowati
Geografi sebagai Ilmu Interaksi Manusia dan Alam
Hj. Maftuhah Mustiqowati menjelaskan peran geografi dalam melihat hubungan manusia dengan lingkungan.
“Geografi tak sekadar bicara peta, melainkan tentang interaksi manusia dengan alam. Krisis lingkungan seperti perubahan iklim, deforestasi, dan polusi sangat dipengaruhi perilaku manusia yang sering melupakan keseimbangan ekosistem,” ungkapnya.
Ia juga berbagi pengalaman dalam mengembangkan madrasah dan komunitas lintas iman demi membentuk generasi peduli lingkungan.
Upaya ini menunjukkan implementasi langsung dari nilai-nilai SDG 13 dan SDG 15 melalui pendidikan dan pemberdayaan masyarakat untuk pelestarian bumi.
Antusiasme Peserta dan Harapan Aksi Nyata Kolaborasi Akademisi, Mahasiswa, dan Lingkungan
Seminar ini diikuti dosen pembina Ormawa, Dr. Fahmi Fahrudin Fadirubun, M.Pd mahasiswa dari berbagai prodi, serta aktivis lingkungan. Peserta aktif berdiskusi, menanyakan tentang solusi dan kolaborasi ilmu agama dan geografi untuk mengatasi masalah lingkungan.
Dr. Fahmi Fahrudin menyampaikan terima kasih atas sinergi dan kontribusi narasumber, panitia, serta peserta yang telah menyukseskan acara.
Komitmen Bersama dan Penutup Langkah Nyata Melestarikan Alam untuk Masa Depan
Sebagai penutup, peserta diajak berkomitmen melakukan aksi lingkungan seperti mengurangi penggunaan plastik, menanam pohon, serta mengedukasi masyarakat tentang pentingnya ekosistem seimbang.
Penanya aktif mendapatkan hadiah buku dari Nyai Ika (Hj. Mustiqowati) sebagai bentuk apresiasi. Harapan utamanya: Seminar ini diharapkan menjadi titik awal gerakan bersama menjaga bumi agar tetap lestari untuk generasi mendatang.